Kisah Nabi Nuh Membuat Kapal Besar (Bahtera), Menyelematkan Kaumnya dari Azab Allah
Nabi Nuh dikenal sebagai salah satu rasul yang memiliki kesabaran luar biasa. Ia termasuk dalam golongan Ulul Azmi, yaitu nabi yang diuji dengan cobaan berat namun tetap teguh dalam menjalankan...
Nabi Nuh dikenal sebagai salah satu rasul yang memiliki kesabaran luar biasa. Ia termasuk dalam golongan Ulul Azmi, yaitu nabi yang diuji dengan cobaan berat namun tetap teguh dalam menjalankan perintah Allah.
Daftar Isi
Nabi Nuh diutus kepada kaum Bani Rasib untuk mengajak mereka kembali kepada tauhid. Namun, kondisi kaumnya jauh dari ajaran kebaikan. Mereka hidup dalam kesombongan, mengukur derajat manusia dari harta, serta merendahkan kaum lemah seperti fakir miskin dan budak.
Tak hanya itu, kezaliman juga merajalela. Hewan pun tak lepas dari perlakuan buruk. Melihat keadaan tersebut, Nabi Nuh terus berdakwah dengan penuh harap agar kaumnya mau berubah.
Dakwah Panjang, Pengikut Tetap Sedikit
Perjalanan dakwah Nabi Nuh berlangsung sangat lama, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Pengikutnya hanya sekitar 70 orang, ditambah beberapa anggota keluarganya.
Penolakan demi penolakan terus ia terima. Ia dihina, dianggap pembual, bahkan diancam. Meski sempat merasa lelah, Nabi Nuh tidak menyerah. Ia tetap mengajak kaumnya kembali kepada Allah.
Hingga suatu titik, Nabi Nuh memperingatkan akan datangnya azab berupa banjir besar. Namun, peringatan itu justru ditertawakan dan dianggap tidak masuk akal.
Perintah Membangun Perahu di Tengah Ejekan
Saat keingkaran semakin menjadi, Nabi Nuh berdoa kepada Allah. Lalu datanglah perintah untuk membangun sebuah perahu besar sebagai persiapan menghadapi azab.
Bersama para pengikutnya, Nabi Nuh mulai membuat bahtera secara gotong royong. Namun, kaumnya justru menjadikan hal itu sebagai bahan ejekan.
Mereka heran melihat perahu dibangun di tempat yang tidak ada air. “Untuk apa membuat perahu?” begitu kira-kira ejekan mereka.
Bahkan, penghinaan yang dilakukan semakin melampaui batas. Perahu itu dijadikan tempat membuang kotoran sebagai bentuk pelecehan terhadap Nabi Nuh dan pengikutnya.
Meski demikian, Nabi Nuh tetap bersabar dan terus mengingatkan mereka tentang azab yang akan datang.
Banjir Besar yang Menenggelamkan Kaum Ingkar
Setelah bahtera selesai, Nabi Nuh dan para pengikutnya bersiap dengan membawa perbekalan. Atas izin Allah, berbagai jenis hewan juga ikut masuk ke dalam perahu.
Tak lama kemudian, banjir besar benar-benar terjadi. Air datang dari berbagai arah, meluap dan menenggelamkan seluruh daratan. Gelombangnya begitu tinggi hingga menyerupai gunung.
Di tengah peristiwa itu, Nabi Nuh masih berusaha menyelamatkan anaknya, Kan’an. Ia memanggilnya agar naik ke perahu dan beriman kepada Allah.
Namun, anaknya menolak dan memilih berlindung ke gunung. Ia mengira tempat tinggi bisa menyelamatkannya. Nabi Nuh menegaskan bahwa tidak ada yang mampu melindungi dari azab Allah selain rahmat-Nya.
Akhirnya, Kan’an pun tenggelam bersama orang-orang kafir.
Bahtera Berakhir di Gunung al-Judi
Setelah seluruh kaum yang ingkar binasa, Allah memerintahkan bumi untuk menyerap air dan langit menghentikan hujan.
Banjir pun surut, dan bahtera Nabi Nuh akhirnya berlabuh di Gunung al-Judi, menjadi simbol keselamatan bagi orang-orang yang beriman.
Hikmah di Balik Kisah Nabi Nuh
Kisah Nabi Nuh bukan sekadar cerita, tetapi pelajaran tentang keteguhan iman dan kesabaran tanpa batas. Ia menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu diikuti banyak orang, namun tetap harus diperjuangkan.
Selain itu, kisah ini juga menjadi peringatan bahwa kesombongan, kezaliman, dan penolakan terhadap kebenaran hanya akan berakhir dengan penyesalan.
Sumber: https://www.detik.com/hikmah/kisah/d-6780804/kisah-nabi-nuh-membuat-perahu-besar-selamatkan-umatnya-dari-azab-allah



No Comment! Be the first one.