Ibadah kurban merupakan salah satu syiar penting dalam Islam yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah dan hari-hari tasyrik. Amalan ini bukan hanya tentang menyembelih hewan, melainkan juga simbol ketaatan, ketulusan, dan pengorbanan seorang hamba kepada Allah SWT. Melalui kurban, umat Islam diajak untuk meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Allah.
Daftar Isi
Selain ketentuan wajib yang harus dipenuhi, terdapat beberapa sunnah yang dianjurkan ketika melaksanakan kurban. Sunnah-sunnah ini bertujuan menyempurnakan ibadah agar semakin bernilai di sisi Allah. Dengan memahami dan mengamalkannya, seorang Muslim tidak hanya mendapatkan pahala kurban, tetapi juga mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Berikut enam sunnah saat kurban yang penting untuk diketahui dilansir dari laman Rumah Zakat.
1. Berkurban dengan Hewan Gemuk
Salah satu anjuran dalam berkurban adalah memilih hewan yang sehat, tidak cacat, dan memiliki kondisi fisik yang baik, termasuk gemuk. Hewan yang gemuk umumnya memiliki kualitas daging yang lebih banyak dan lebih baik. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW memilih hewan kurban terbaik yang beliau miliki.
Memilih hewan yang gemuk bukan berarti berlebihan atau bermewah-mewahan, melainkan menunjukkan kesungguhan dalam beribadah. Memberikan yang terbaik dalam kurban mencerminkan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan. Ibadah kurban seharusnya tidak dilakukan dengan asal-asalan atau sekadar memenuhi kewajiban sosial.
Selain itu, hewan yang sehat dan gemuk juga memberikan manfaat lebih besar bagi penerima daging kurban. Dengan demikian, nilai sosial dari ibadah ini semakin terasa.
2. Tidak Memotong Rambut dan Kuku
Bagi seseorang yang berniat berkurban, disunnahkan untuk tidak memotong rambut dan kuku sejak masuknya bulan Dzulhijjah hingga hewan kurban disembelih. Anjuran ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW yang melarang orang yang hendak berkurban memotong rambut dan kukunya sebelum penyembelihan dilakukan.
Hikmah dari sunnah ini adalah sebagai bentuk penyempurnaan ibadah dan menyerupai sebagian keadaan orang yang sedang berihram. Larangan tersebut bukanlah kewajiban, namun sangat dianjurkan untuk diikuti sebagai bentuk ketaatan.
Dengan menahan diri dari memotong rambut dan kuku, seorang Muslim diingatkan bahwa ia sedang mempersiapkan diri untuk sebuah ibadah besar. Ini menjadi simbol kesiapan spiritual dalam menyambut hari raya kurban.
3. Menyembelih Sendiri atau Menyaksikan Langsung
Sunnah berikutnya adalah menyembelih hewan kurban sendiri jika mampu. Apabila tidak memiliki kemampuan atau keahlian, maka dianjurkan untuk menyaksikan langsung proses penyembelihan. Rasulullah SAW mencontohkan menyembelih hewan kurbannya sendiri sebagai bentuk tanggung jawab dan kesungguhan dalam beribadah.
Menyaksikan penyembelihan juga memiliki makna mendalam. Hal tersebut mengingatkan bahwa kurban bukan sekadar formalitas, melainkan ibadah yang memerlukan niat dan kehadiran hati. Dengan melihat langsung prosesnya, rasa syukur dan ketundukan kepada Allah semakin terasa. Selain itu, menyaksikan penyembelihan membantu memastikan bahwa proses dilakukan sesuai syariat, mulai dari tata cara hingga pembagian dagingnya.
4. Membaca Basmalah dan Zikir
Ketika menyembelih hewan kurban, dianjurkan untuk membaca basmalah serta menyebut nama Allah. Ucapan “Bismillahi Allahu Akbar” menjadi lafaz yang biasa dibaca saat penyembelihan. Tujuannya adalah menegaskan bahwa ibadah ini dilakukan semata-mata karena Allah SWT.
Zikir yang dibaca saat penyembelihan menunjukkan bahwa kurban adalah bentuk ibadah, bukan sekadar aktivitas menyembelih hewan. Dengan menyebut nama Allah, penyembelihan menjadi sah dan bernilai ibadah.
Selain itu, memperbanyak zikir dan doa pada hari raya kurban juga sangat dianjurkan. Hari tersebut merupakan waktu yang penuh keberkahan dan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
5. Menyantap Daging Kurban
Disunnahkan bagi orang yang berkurban untuk ikut menikmati sebagian daging kurbannya. Hal ini menandakan bahwa kurban bukan hanya untuk diberikan kepada orang lain, tetapi juga sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang Allah anugerahkan.
Menyantap daging kurban menjadi simbol kebersamaan dan kebahagiaan di hari raya. Dalam Islam, pembagian daging kurban biasanya dilakukan dengan membagi sepertiga untuk diri sendiri, sepertiga untuk kerabat atau tetangga, dan sepertiga untuk fakir miskin. Dengan ikut merasakan daging kurban, sohibul kurban turut merayakan nikmat Allah bersama keluarga dan masyarakat sekitar.
6. Penyembelihan di Hari Idul Adha
Waktu penyembelihan yang utama adalah setelah pelaksanaan salat Iduladha pada tanggal 10 Dzulhijjah hingga hari-hari tasyrik (11–13 Dzulhijjah). Penyembelihan sebelum salat Id tidak dihitung sebagai kurban, melainkan sekadar sembelihan biasa.
Melaksanakan kurban tepat pada waktunya menunjukkan ketaatan terhadap ketentuan syariat. Hari raya Iduladha menjadi momentum terbaik karena merupakan puncak ibadah haji dan hari besar umat Islam. Dengan memperhatikan waktu yang tepat, ibadah kurban menjadi sah dan sempurna sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Kesimpulan
Ibadah kurban tidak hanya memiliki aturan dasar yang wajib dipenuhi, tetapi juga sunnah-sunnah yang dianjurkan untuk menyempurnakannya. Memilih hewan yang gemuk, menahan diri dari memotong rambut dan kuku, menyembelih sendiri atau menyaksikan langsung, membaca basmalah dan zikir, menikmati sebagian daging kurban, serta melaksanakan penyembelihan pada waktu yang tepat merupakan amalan yang memperindah ibadah ini.
Dengan memahami enam sunnah tersebut, umat Islam dapat menjalankan kurban secara lebih khusyuk dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Ibadah ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sarana meningkatkan ketakwaan dan mempererat kepedulian sosial.
sumber : https://www.rumahzakat.org/6-sunnah-yang-harus-kamu-ketahui-ketika-kurban/



No Comment! Be the first one.