Kalender Hijriah merupakan sistem penanggalan yang digunakan umat Islam berdasarkan peredaran bulan (qamariyah). Penanggalan ini dimulai sejak peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yang menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam. Berbeda dengan kalender Masehi yang berbasis matahari, kalender Hijriah mengikuti siklus bulan sehingga jumlah harinya lebih singkat sekitar 10–11 hari setiap tahun.
Daftar Isi
- 12 Nama Bulan Hijriyah dan Maknanya
- Muharram (مُحَرَّم)
- Safar (صَفَر)
- Rabiul Awal (رَبِيْع الأَوَّل)
- Rabiul Akhir (رَبِيْع الآخِر)
- Jumadil Awal (جُمَادَى الْأُولَى)
- Jumadil Akhir (جُمَادَى الْآخِرَة)
- Rajab (رَجَب)
- Syaban (شَعْبَان)
- Ramadan (رَمَضَان)
- Syawal (شَوَّال)
- Zulqadah (ذُو الْقَعْدَة)
- Zulhijah (ذُو الْحِجَّة)
- Kesimpulan
Setiap bulan dalam kalender Hijriah memiliki nama dan makna tersendiri. Penamaan tersebut tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan berkaitan dengan kondisi sosial, budaya, maupun peristiwa yang terjadi pada masa bangsa Arab sebelum Islam. Seiring waktu, bulan-bulan tersebut juga memiliki nilai spiritual yang mendalam dalam ajaran Islam.
12 Nama Bulan Hijriyah dan Maknanya
Berikut ini adalah dua belas bulan dalam kalender Hijriah beserta makna yang terkandung di dalamnya, dilansir dari laman Baitulmaal Muamalat.
Muharram (مُحَرَّم)
Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah. Kata “Muharram” berasal dari kata haram yang berarti suci atau terlarang. Pada masa Arab dahulu, bulan ini termasuk bulan yang dimuliakan dan diharamkan untuk berperang.
Dalam Islam, Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram yang memiliki keutamaan khusus. Bulan ini juga menjadi momentum untuk memperbanyak ibadah, seperti puasa sunnah Asyura.
Safar (صَفَر)
Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah. Secara bahasa, Safar berarti kosong. Konon, dinamakan demikian karena pada masa dahulu banyak rumah menjadi kosong akibat penduduknya pergi berperang atau merantau.
Dalam ajaran Islam, tidak ada kesialan khusus pada bulan Safar. Umat Islam diajarkan untuk tidak mempercayai mitos negatif, melainkan tetap berpegang pada keyakinan kepada Allah SWT.
Rabiul Awal (رَبِيْع الأَوَّل)
Rabiul Awal berarti “musim semi pertama.” Penamaan ini merujuk pada kondisi musim ketika nama tersebut diberikan. Bulan ini memiliki makna penting karena diyakini sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bagi umat Islam, Rabiul Awal menjadi waktu untuk mengingat keteladanan Rasulullah serta memperbanyak shalawat.
Rabiul Akhir (رَبِيْع الآخِر)
Rabiul Akhir berarti “musim semi kedua” atau lanjutan dari Rabiul Awal. Secara historis, bulan ini merupakan bagian dari siklus musim yang sama. Secara spiritual, bulan ini menjadi kesempatan untuk melanjutkan semangat kebaikan dan meneladani ajaran Nabi Muhammad SAW.
Jumadil Awal (جُمَادَى الْأُولَى)
Jumadil Awal berarti “kemarau pertama.” Kata jumada merujuk pada kondisi tanah yang kering atau membeku. Nama ini diberikan sesuai keadaan musim pada masa penamaannya. Bulan ini mengingatkan manusia tentang perubahan alam serta kekuasaan Allah dalam mengatur waktu dan musim.
Jumadil Akhir (جُمَادَى الْآخِرَة)
Jumadil Akhir berarti “kemarau kedua.” Sebagaimana Jumadil Awal, bulan ini menggambarkan kelanjutan musim kering. Dalam perjalanan waktu, bulan ini menjadi bagian dari siklus tahunan yang mengajarkan manusia tentang pergantian waktu dan pentingnya memanfaatkan setiap kesempatan.
Rajab (رَجَب)
Rajab adalah salah satu bulan haram yang dimuliakan. Secara bahasa, Rajab berarti menghormati atau mengagungkan. Pada masa dahulu, peperangan dihentikan sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan ini. Dalam tradisi Islam, Rajab sering dijadikan momen untuk memperbanyak doa dan ibadah sebagai persiapan menuju bulan Ramadan.
Syaban (شَعْبَان)
Syaban berasal dari kata yang berarti berpencar atau berkelompok. Pada masa lampau, masyarakat Arab berpencar mencari sumber air atau melakukan aktivitas lainnya setelah bulan Rajab. Bulan Syaban dikenal sebagai waktu persiapan menjelang Ramadan. Banyak umat Islam memperbanyak puasa sunnah dan amal kebaikan di bulan ini.
Ramadan (رَمَضَان)
Ramadan berarti panas yang menyengat. Nama ini menggambarkan kondisi cuaca ketika pertama kali dinamakan. Dalam Islam, Ramadan adalah bulan paling istimewa karena diwajibkannya puasa dan diturunkannya Al-Qur’an. Ramadan menjadi bulan penuh ampunan, rahmat, dan keberkahan. Umat Islam berlomba-lomba meningkatkan ibadah selama bulan ini.
Syawal (شَوَّال)
Syawal berarti meningkat atau terangkat. Dalam konteks lama, istilah ini merujuk pada meningkatnya suhu atau kondisi tertentu pada unta. Syawal menjadi bulan kemenangan setelah Ramadan. Umat Islam merayakan Idulfitri pada tanggal 1 Syawal sebagai simbol kembali kepada kesucian.
Zulqadah (ذُو الْقَعْدَة)
Zulqadah berarti “bulan duduk” atau bulan berdiam diri. Pada masa dahulu, masyarakat Arab menghentikan peperangan dan memilih menetap di rumah. Zulqadah juga termasuk bulan haram yang dimuliakan. Bulan ini menjadi waktu tenang sebelum memasuki musim haji.
Zulhijah (ذُو الْحِجَّة)
Zulhijah berarti “bulan haji.” Pada bulan inilah ibadah haji dilaksanakan. Zulhijah termasuk bulan suci dan memiliki banyak keutamaan, terutama pada sepuluh hari pertama. Perayaan Iduladha dan ibadah kurban juga dilaksanakan pada bulan ini, menjadikannya bulan penuh pengorbanan dan ketakwaan.
Kesimpulan
Dua belas bulan Hijriah bukan sekadar penanda waktu, tetapi juga sarat makna sejarah dan spiritual. Setiap bulan memiliki latar belakang penamaan yang unik serta nilai keutamaan dalam ajaran Islam. Memahami nama dan maknanya membantu umat Islam lebih menghargai perjalanan waktu serta memanfaatkan setiap bulan untuk meningkatkan kualitas ibadah.
Dengan mengenal kalender Hijriah secara mendalam, seorang muslim akan lebih sadar akan momentum-momentum penting dalam Islam dan mampu mengisi hari-harinya dengan amal yang bermanfaat.
sumber : https://bmm.or.id/artikel/12-nama-bulan-hijriah-makna-dan-keutamaannya-dalam-islam-stU



No Comment! Be the first one.