5 Kesalahan Orang Tua Saat Mengajari Anak Latihan Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib bagi umat Islam yang telah balig. Meski demikian, banyak orang tua memilih mengenalkan latihan puasa sejak anak masih kecil agar mereka terbiasa dan tidak merasa...
Puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib bagi umat Islam yang telah balig. Meski demikian, banyak orang tua memilih mengenalkan latihan puasa sejak anak masih kecil agar mereka terbiasa dan tidak merasa kaget ketika kewajiban itu benar-benar berlaku. Sayangnya, tanpa pemahaman yang tepat, proses mengajari anak latihan puasa Ramadhan justru sering diiringi kekeliruan. Kesalahan ini bukan hanya berdampak pada fisik anak, tetapi juga bisa memengaruhi cara pandangnya terhadap ibadah puasa di masa depan.
Daftar Isi
Mengajarkan puasa pada anak sejatinya perlu dilakukan secara bertahap, penuh kesabaran, dan sesuai tuntunan agama. Lalu, kesalahan apa saja yang sering dilakukan orang tua saat melatih anak berpuasa? Berikut penjelasan lengkapnya.
1. Mengharuskan Anak Puasa Sehari Penuh
Baca Juga : Menu Makan Sahur untuk Anak agar Kuat Berpuasa
Banyak orang tua menganggap anak harus langsung berpuasa penuh dari subuh hingga magrib. Padahal, anak yang belum balig belum memiliki kewajiban berpuasa secara sempurna.
Mengutip dari laman resmi Nahdlatul Ulama, para ulama sepakat bahwa anak boleh mulai dilatih berpuasa sejak usia sekitar 7 tahun, namun sesuai dengan kemampuan fisiknya. Artinya, latihan puasa bisa dimulai dari setengah hari atau beberapa jam terlebih dahulu, lalu ditingkatkan secara bertahap. Pendekatan ini jauh lebih aman dan mendidik dibandingkan memaksa anak berpuasa penuh sejak awal.
2. Menganggap Menangis Bisa Membatalkan Puasa
Kesalahan berikutnya adalah melarang anak menangis karena dianggap dapat membatalkan puasa. Anggapan ini masih banyak dipercaya, padahal tidak sepenuhnya benar.
Direktur Rumah Quran dan Bahasa Al-Mujtaba, Dr. Mauidlotun Nisa, Lc., S.Pd.I., M.Hum, menjelaskan:
“Dalam literatur Fiqih juga tidak ada satu pun yang menyebutkan bahwa menangis bisa membatalkan puasa. Kecuali jika air mata itu berlebihan dan masuk ke mulut, sampai ke kerongkongan, maka batallah puasanya.”
Oleh karena itu, orang tua sebaiknya lebih fokus mengajarkan hal-hal yang benar-benar membatalkan puasa, seperti makan dan minum dengan sengaja.
3. Membiarkan Puasa Tanpa Salat Wajib
Sebagian orang tua hanya menekankan pentingnya puasa, tetapi kurang memperhatikan ibadah wajib lainnya, terutama salat lima waktu. Padahal, puasa dan salat merupakan ibadah yang sama-sama wajib dalam Islam.
Ustazah Nisa menegaskan bahwa anak seharusnya diajarkan keduanya secara bersamaan agar memahami konsep ibadah secara utuh. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW:
“Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.”
Artinya, pendidikan ibadah sejak dini harus mencakup seluruh kewajiban, bukan hanya puasa semata.
4. Menakut-nakuti Anak Agar Mau Berpuasa
Sebagian orang tua memilih cara menakut-nakuti agar anak mau berpuasa. Menurut Ustazah Nisa, cara ini boleh dilakukan selama masih logis dan tidak mengandung ancaman berlebihan.
Mengajarkan puasa dengan pendekatan positif, seperti menjelaskan pahala dan keutamaannya, jauh lebih efektif dibandingkan ancaman. Jika anak terlalu sering ditakut-takuti, puasa justru akan dipersepsikan sebagai beban, bukan ibadah yang menyenangkan.
5. Memaksa Anak Puasa Saat Sakit
Kesalahan terakhir yang cukup serius adalah memaksa anak tetap berpuasa meski kondisi fisiknya tidak memungkinkan. Dokter Spesialis Anak, dr. Titis Prawitasari, Sp.A(K), menyarankan agar latihan puasa dilakukan secara bertahap.
Seperti yang dikutip dari siaran langsung Instagram resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Titis menyampaikan:
“Umumnya anak-anak itu bisa menahan lapar dan haus selama 4 jam. Jadi untuk awal pengenalan puasa sebaiknya 4 jam dulu, secara bertahap dan yang terpenting jangan dipaksa dari subuh sampai magrib.”
Selain itu, anak dengan kondisi medis tertentu, seperti diabetes, wajib berkonsultasi dengan dokter sebelum mengikuti puasa.
Mengajari anak latihan puasa Ramadhan membutuhkan kesabaran, pemahaman agama, serta perhatian pada kondisi fisik dan mental anak. Dengan menghindari kesalahan-kesalahan di atas, orang tua dapat membantu anak menjalani latihan puasa dengan lebih nyaman, aman, dan penuh makna.
Referensi: https://kumparan.com/kumparanmom/5-salah-kaprah-yang-sering-dilakukan-orang-tua-saat-ajari-anak-puasa-1tMJUt8yaFO/full



No Comment! Be the first one.