Al-Bara’ bin Malik: “Sang Perindu Kematian” Pembela Agama Allah
Al-Bara’ bin Malik Al-Anshari adalah sahabat Nabi Muhammad ﷺ dari kaum Anshar (suku Khazraj) yang dijuluki “Sang Perindu Kematian” karena keberaniannya yang luar biasa dan...
Al-Bara’ bin Malik Al-Anshari adalah sahabat Nabi Muhammad ﷺ dari kaum Anshar (suku Khazraj) yang dijuluki “Sang Perindu Kematian” karena keberaniannya yang luar biasa dan kerinduannya yang mendalam untuk meraih mati syahid di jalan Allah. Ia merupakan saudara kandung dari Anas bin Malik, pelayan setia Rasulullah ﷺ.
Daftar Isi
Meskipun berperawakan kurus dan kecil, ia adalah petarung tangguh yang tercatat pernah membunuh lebih dari 100 musuh dalam duel satu lawan satu. Keberaniannya yang tanpa batas membuat Khalifah Umar bin Khattab mengeluarkan instruksi khusus agar Al-Bara’ tidak pernah diangkat menjadi komandan pasukan, karena dikhawatirkan nekat membawa seluruh pasukannya menuju kematian demi menjemput syahid.
Aksi Heroik Terbesar Al-Bara’ bin Malik
Kisah kepahlawanan Al-Bara’ yang paling melegenda terjadi pasca-wafatnya Rasulullah ﷺ, khususnya dalam menghadapi gerakan murtad:
- Tragedi “Kebun Kematian” (Perang Yamamah): Pasukan Muslim yang dipimpin Khalid bin Walid sempat terdesak oleh pasukan nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab yang berlindung di dalam benteng kokoh bertembok tinggi.
- Strategi Tameng Terbang: Melihat kebuntuan, Al-Bara’ meminta rekan-rekannya untuk menaikkan tubuhnya ke atas tameng, lalu melemparkannya menggunakan ujung tombak melewati dinding benteng musuh.
- Membuka Gerbang Benteng: Ia mendarat sendirian di tengah kepungan ribuan musuh. Dengan keberanian luar biasa, ia bertarung sendirian, membunuh banyak pasukan pengawal, dan berhasil membuka pintu gerbang benteng dari dalam sehingga pasukan Muslim bisa merangsek masuk dan memenangkan pertempuran. Ia selamat dari perang ini meskipun menderita lebih dari 80 luka tusukan di tubuhnya.
Pengorbanan Persaudaraan
Pada pengepungan benteng Tustar di Persia, musuh menjatuhkan rantai-rantai besi panas yang berujung pengait jangkar untuk menarik pasukan Muslim. Salah satu pengait tersebut mengenai saudaranya, Anas bin Malik. Tanpa ragu, Al-Bara’ memanjat dinding benteng dan memegang rantai besi yang membara tersebut dengan tangan kosong demi melepaskan cengkeraman dari tubuh saudaranya. Ia berhasil menyelamatkan Anas, meskipun daging di kedua telapak tangannya meleleh hingga menyisakan tulang.
Akhir Hayat yang Dirindukan
Al-Bara’ bin Malik memiliki keistimewaan berupa doa yang mustajab. Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa jika Al-Bara’ bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkannya.
Kerinduan panjangnya terhadap syahadah akhirnya terwujud pada Perang Tustar (20 H / 641 M). Sebelum gugur, ia berdoa dan bersumpah agar Allah memberikan kemenangan bagi kaum Muslimin dan menjadikan dirinya sebagai syuhada pertama pada hari itu. Doanya dikabulkan secara instan; pasukan Muslim memenangkan pertempuran dan Al-Bara’ gugur menemui syahid yang selama hidup selalu ia cari.
Berikut adalah detail mendalam mengenai pilihan kisah yang bisa Anda pelajari:
Anas bin Malik: Sang Pelayan Rasulullah ﷺ
Berbeda dengan Al-Bara’ yang fokus di medan pertempuran, Anas bin Malik berjuang lewat ilmu. Ia diserahkan oleh ibunya, Ummu Sulaim, untuk mengabdi kepada Nabi Muhammad ﷺ sejak usia 10 tahun.
Keistimewaan Doa Nabi: Rasulullah ﷺ mendoakan Anas agar diberikan harta melimpah, anak yang banyak, dan berkah dalam hidupnya. Doa ini terkabul; Anas hidup hingga usia lebih dari 100 tahun dan memiliki keturunan yang sangat banyak.
Warisan Ilmu: Kedekatannya dengan Nabi selama 10 tahun menjadikannya salah satu dari jajaran perawi hadis terbanyak (lebih dari 2.000 hadis), yang menjadi rujukan hukum Islam hingga hari ini.
Strategi Khalid bin Walid di Perang Yamamah
Perang Yamamah adalah salah satu pertempuran paling berdarah dalam sejarah Islam melawan 40.000 pasukan benteng Musailamah Al-Kadzdzab.
Khalid bin Walid menerapkan taktik brilian untuk membalikkan keadaan:
- Restrukturisasi Pasukan: Khalid memisahkan pasukan berdasarkan suku dan kabilah asal (Muhajirin, Anshar, dan suku-suku Badui). Taktik ini memicu kompetisi positif dan rasa persaudaraan yang tinggi, sehingga tidak ada satu kelompok pun yang mau terlihat lemah di depan kelompok lain.
- Serangan Psikologis Langsung: Khalid memimpin duel satu lawan satu di lini depan untuk menjatuhkan mental para komandan Musailamah, memecah fokus pertahanan musuh sebelum Al-Bara’ melakukan aksi nekatnya.
Sahabat dengan Karakteristik Tempur Unik
Selain Al-Bara’, ada beberapa sahabat yang memiliki spesialisasi tempur luar biasa:
- Hubab bin Al-Mundzir: Sang pakar geopolitik pertempuran. Ia adalah sosok yang mengoreksi penempatan pasukan Nabi di Perang Badar, menyarankan untuk menguasai sumber air agar musuh kehausan.
- Abu Dujanah: Terkenal dengan “Ikat Kepala Kematian” berwarna merah. Jika ikat pinggang atau ikat kepala ini sudah terpasang, ia akan maju ke jantung pertahanan musuh menari dengan pedangnya tanpa memedulikan keselamatan diri.
Kesimpulan
Al-Bara’ bin Malik dan Anas bin Malik adalah dua bersaudara kandung dari kaum Anshar yang menempuh jalan perjuangan berbeda namun saling melengkapi dalam sejarah Islam:
Al-Bara’ bin Malik: Berjuang di garis depan pertempuran. Ia mengukir sejarah lewat keberanian fisik yang ekstrem (seperti aksi melempar diri ke benteng Yamamah) demi mengejar mati syahid.
Sumber
Al-Barra Bin Malik radhiyallahu ‘anhu : Ujung Tombak Pasukan Muslimin



No Comment! Be the first one.