Kisah Masa Kecil Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi Wa Sallam dan Pengasuhan Halimah Sa’diyah
Nabi Muhammad SAW menjalani masa kecilnya di bawah pengasuhan Halimah as-Sa’diyyah selama kurang lebih empat hingga lima tahun di perkampungan Bani Sa’ad. Tradisi ini dilakukan oleh...
Nabi Muhammad SAW menjalani masa kecilnya di bawah pengasuhan Halimah as-Sa’diyyah selama kurang lebih empat hingga lima tahun di perkampungan Bani Sa’ad. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Quraisy agar anak-anak mereka tumbuh di lingkungan pedesaan yang asri, memiliki fisik yang kuat, serta menguasai bahasa Arab yang fasih dan murni.
Daftar Isi
Berikut adalah poin-poin penting mengenai kisah pengasuhan beliau:
Pertemuan dan Pilihan Halimah
- Paceklik dan Kemiskinan: Halimah berasal dari kabilah Sa’ad bin Bakr yang saat itu sedang dilanda kekeringan dan kelaparan. Ia datang ke Makkah mencari bayi untuk disusui demi mendapatkan upah.
- Bayi Yatim yang Ditolak: Banyak ibu susu lain menolak mengasuh Muhammad karena beliau adalah seorang yatim. Mereka khawatir tidak akan mendapatkan imbalan materi yang besar.
- Pilihan Terakhir: Halimah awalnya juga ragu, namun karena ia menjadi satu-satunya yang belum mendapatkan anak asuhan, ia memutuskan untuk membawa bayi Muhammad daripada pulang dengan tangan kosong.
Keberkahan yang Dialami Keluarga Halimah
Begitu Halimah mulai mengasuh Muhammad kecil, berbagai keajaiban dan keberkahan langsung terjadi pada keluarganya:
- ASI yang Melimpah: Air susu Halimah yang sebelumnya sangat sedikit tiba-tiba menjadi melimpah hingga cukup untuk menyusui Nabi Muhammad dan anaknya sendiri sampai kenyang.
- Keledai dan Unta yang Kuat: Keledai tunggangan Halimah yang tadinya kurus dan lambat mendadak menjadi kuat dan lincah, bahkan melampaui rombongan lainnya. Begitu pula dengan unta mereka yang susunya menjadi penuh.
- Ternak dan Lahan yang Subur: Domba-domba milik Halimah menjadi gemuk dan menghasilkan banyak susu, meskipun lahan di sekitarnya masih kering kerontang.
Masa Pertumbuhan Nabi Muhammad
- Tumbuh Lebih Cepat: Muhammad kecil tumbuh dengan fisik yang lebih kuat dan sehat dibandingkan anak-anak seusianya. Pada usia 5 bulan beliau sudah pandai berjalan, dan usia 9 bulan sudah mampu berbicara.
- Saudara Susuan: Beliau tumbuh bersama anak-anak Halimah, yaitu Abdullah, Anisah, dan Hudzafah (asy-Syima’). Pada usia 2 tahun, beliau mulai ikut menggembala kambing bersama mereka.
- Peristiwa Pembelahan Dada (Syaqqus Shadr): Saat masih dalam pengasuhan Halimah, terjadi peristiwa di mana dua malaikat datang dan membelah dada Nabi untuk mensucikan hatinya. Peristiwa ini membuat Halimah khawatir dan akhirnya memutuskan untuk mengembalikan Muhammad kepada ibunya, Aminah.
Halimah as-Sa’diyyah sangat mencintai Muhammad kecil dan merawatnya dengan kasih sayang penuh, sementara Nabi Muhammad SAW pun selalu menghormati ibu susunya ini hingga masa kenabiannya.
Peristiwa pembelahan dada atau Syaqqus Shadr adalah salah satu mukjizat pertama yang dialami Nabi Muhammad SAW saat beliau masih kecil di perkampungan Bani Sa’ad.
Berikut adalah rincian kejadiannya:
Detik-detik Kejadian
Saat itu, Muhammad kecil (sekitar usia 4-5 tahun) sedang bermain atau menggembala kambing bersama saudara susuannya di dekat rumah Halimah. Tiba-tiba, datanglah dua orang laki-laki berbaju putih (Malaikat Jibril dan Mikail).
Proses Penyucian
Malaikat tersebut membaringkan Nabi Muhammad, lalu membelah dadanya. Dalam riwayat hadis (HR. Muslim), dijelaskan bahwa Jibril mengeluarkan hati Nabi dan mengambil sebuah gumpalan darah hitam darinya seraya berkata:
“Ini adalah bagian setan yang ada di dalam dirimu.”
Hati tersebut kemudian dicuci di dalam sebuah bejana emas berisi air zamzam, lalu dikembalikan lagi ke tempat semula hingga pulih seperti sediakala.
Dampak Setelah Kejadian
- Kekhawatiran Saudara Susuan: Saudara susuan Nabi yang melihat kejadian itu berlari ketakutan menemui Halimah dan suaminya sambil berteriak, “Muhammad telah dibunuh!”
- Kondisi Nabi: Saat dihampiri, wajah Nabi Muhammad tampak pucat, namun beliau dalam keadaan selamat.
- Pengembalian ke Makkah: Peristiwa luar biasa ini membuat Halimah sangat khawatir akan keselamatan Nabi. Meskipun ia sangat berat hati berpisah, Halimah akhirnya memutuskan untuk segera mengembalikan Nabi Muhammad ke pangkuan ibundanya, Aminah, di Makkah.
Kejadian ini dimaknai oleh para ulama sebagai bentuk penjagaan Allah terhadap Nabi Muhammad agar beliau tumbuh dalam keadaan suci, maksum (terjaga dari dosa), dan tidak tersentuh oleh godaan setan sejak dini.
Kesimpulan
dari kisah masa kecil Nabi Muhammad SAW dalam pengasuhan Halimah Sa’diyah adalah:
- Keberkahan Nyata: Kehadiran Nabi Muhammad membawa perubahan besar bagi keluarga Halimah, dari kemiskinan dan paceklik menjadi kelimpahan rezeki dan keberkahan harta.
- Lingkungan yang Membentuk: Masa lima tahun di pedesaan Bani Sa’ad membentuk karakter Nabi menjadi pribadi yang mandiri, memiliki fisik yang kuat, dan kefasihan bahasa Arab yang murni.
- Penyucian Spiritual: Peristiwa pembelahan dada (Syaqqus Shadr) merupakan bentuk intervensi ilahi untuk mensucikan hati Nabi dari godaan setan sejak dini, sekaligus menjadi tanda kenabian (mukjizat).
- Kasih Sayang yang Tulus: Meskipun awalnya sempat ragu karena status yatim Nabi, Halimah akhirnya merawat beliau dengan cinta yang tulus hingga Nabi menganggapnya sebagai ibu kandung sendiri.
Kisah ini menunjukkan bahwa sejak bayi, Allah SWT telah mempersiapkan fisik dan jiwa Nabi Muhammad untuk mengemban amanah besar di masa depan.
Sumber
https://nu.or.id/sirah-nabawiyah/kisah-awal-halimah-as-sa-diyyah-menyusui-nabi-muhammad-TxUCY



No Comment! Be the first one.