Kisah Nabi Nuh AS: Membangun Kapal Besar di Tengah Kaum yang Membangkang
Kisah Nabi Nuh AS adalah potret keteguhan hati seorang rasul yang berdakwah selama sekitar 950 tahun, namun hanya mendapatkan sangat sedikit pengikut. Selebihnya, kaumnya justru mencemooh dan tetap...
Kisah Nabi Nuh AS adalah potret keteguhan hati seorang rasul yang berdakwah selama sekitar 950 tahun, namun hanya mendapatkan sangat sedikit pengikut. Selebihnya, kaumnya justru mencemooh dan tetap menyembah berhala.
Daftar Isi
Berikut adalah ringkasan perjalanan kisahnya:
Perintah Membangun Kapal (Bahtera)
Setelah sekian lama berdakwah tanpa hasil yang signifikan, Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh untuk membangun sebuah kapal besar (ark). Yang unik, kapal ini dibangun di atas bukit atau daratan kering yang jauh dari laut.
Cemoohan Kaumnya
Melihat Nabi Nuh membangun kapal di tempat yang tidak masuk akal, kaumnya semakin menjadi-jadi menghinanya. Mereka menganggap Nabi Nuh telah hilang ingatan karena membangun sarana laut di tengah daratan yang gersang. Nabi Nuh hanya menjawab dengan tenang bahwa kelak mereka akan tahu siapa yang akan ditimpa azab.
Banjir Besar yang Meluluhlantakkan
Ketika kapal selesai, Allah memerintahkan Nabi Nuh membawa serta orang-orang beriman dan sepasang dari setiap jenis binatang. Tak lama, langit menumpahkan hujan yang sangat lebat dan bumi memancarkan air dari segala penjuru. Banjir besar pun terjadi, menenggelamkan segala sesuatu yang ada di muka bumi.
Kisah Kan’an (Putra Nabi Nuh)
Salah satu momen paling menyentuh adalah ketika Nabi Nuh melihat putranya, Kan’an, berusaha menyelamatkan diri ke puncak gunung. Nabi Nuh mengajaknya naik ke kapal, namun Kan’an menolak karena sombong dan merasa gunung bisa melindunginya. Akhirnya, ia pun tewas tergulung ombak di depan mata ayahnya sendiri.
Pelajaran Berharga
- Kesabaran Tanpa Batas: Nabi Nuh menunjukkan bahwa tugas kita hanyalah berusaha dan menyampaikan kebenaran, sementara hasilnya ada di tangan Tuhan.
- Iman Melampaui Nasab: Hubungan darah tidak bisa menyelamatkan seseorang jika ia tidak memiliki iman (seperti kasus Kan’an).
- Ketaatan pada Perintah yang “Mustahil”: Membangun kapal di daratan mengajarkan kita untuk tetap taat pada perintah agama meski terlihat tidak logis di mata manusia.
Berikut adalah rincian mengenai doa-doa Nabi Nuh AS dan apa saja yang ada di dalam kapalnya berdasarkan catatan Al-Qur’an dan riwayat Islam:
Doa-Doa Nabi Nuh AS
Nabi Nuh memanjatkan beberapa doa penting di berbagai fase perjuangannya:
- Doa Memohon Keadilan (QS. Asy-Syu’ara: 117-118): Setelah ratusan tahun didustakan, beliau berdoa: “Ya Tuhanku, sungguh kaumku telah mendustakan aku; maka berilah keputusan antara aku dengan mereka… dan selamatkanlah aku dan mereka yang beriman bersamaku”.
- Doa Penghancuran Kaum Kafir (QS. Nuh: 26-27): Beliau memohon agar tidak ada orang kafir yang tersisa di bumi karena mereka hanya akan menyesatkan orang lain dan melahirkan keturunan yang juga durhaka.
- Doa Saat Mulai Berlayar (QS. Hud: 41): “Bismillahi majreha wa mursaha…” (Dengan nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya).
- Doa Memohon Tempat Berlabuh yang Berkah (QS. Al-Mu’minun: 29): “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat”.
- Doa Pasca Banjir (QS. Hud: 44): Perintah Allah untuk menghentikan air, “Wahai bumi telanlah airmu, dan wahai langit berhentilah…”.
Isi Kapal (Bahtera) Nabi Nuh
Kapal tersebut dibangun dari papan dan pasak (paku) dengan bimbingan wahyu. Di dalamnya berisi:
- Umat yang Beriman: Meskipun jumlahnya sedikit, mereka adalah orang-orang yang tetap teguh pada tauhid.
- Keluarga Nabi Nuh: Kecuali istri dan satu putranya (Kan’an) yang membangkang.
- Pasangan Hewan: Sepasang (jantan dan betina) dari setiap jenis hewan untuk menjamin keberlangsungan hidup mereka setelah banjir.
- Tiga Lantai Kapal: Menurut beberapa riwayat, kapal memiliki tiga tingkat: lantai dasar untuk hewan buas dan melata, lantai tengah untuk manusia, dan lantai atas untuk burung-burung.
- Perbekalan: Stok makanan yang cukup untuk seluruh penumpang selama masa banjir.
Kesimpulan
dari kisah Nabi Nuh AS adalah sebuah pesan tentang pemisahan antara kebenaran dan kebathilan. Setelah ratusan tahun berdakwah dengan penuh kesabaran namun terus ditolak, Allah SWT menurunkan banjir besar sebagai bentuk pembersihan bumi dari kekufuran.
Berikut adalah poin-poin utama kesimpulannya:
- Ujian Kesabaran: Dakwah selama 950 tahun mengajarkan bahwa keberhasilan seorang pejuang bukan dilihat dari banyaknya pengikut, melainkan dari keteguhan dalam menyampaikan kebenaran.
- Keadilan Allah: Banjir besar bukan sekadar bencana, melainkan bentuk keadilan bagi kaum yang melampaui batas dan sekaligus penyelamatan bagi orang-orang yang beriman.
- Pentingnya Ketaatan: Perintah membangun kapal di tengah daratan mengajarkan bahwa logika manusia terbatas, sedangkan perintah Tuhan selalu memiliki tujuan keselamatan yang mutlak.
- Garis Iman Lebih Kuat dari Garis Darah: Kisah Kan’an membuktikan bahwa hubungan kekeluargaan tidak bermanfaat di akhirat jika tidak disertai dengan ikatan iman yang sama.
- Awal Baru Peradaban: Keselamatan Nabi Nuh dan para pengikutnya menjadi titik balik dimulainya peradaban manusia yang baru dan bersih dari kesyirikan pada masa itu.
Sumber
https://arnaba.dayah.id/berita/kategori/tarikh-dan-sejarah/viral-kisah-nabi-nuh-as-membuat-kapal-besar



No Comment! Be the first one.