Kisah Sahabat Perempuan Rasulullah yang Perjuangkan Kesetaraan Gender pada Zaman Jahiliyah
Di tengah budaya Jahiliyah yang sangat merendahkan martabat perempuan—bahkan hingga praktik penguburan bayi perempuan hidup-hidup—muncul sosok-sosok sahabat perempuan (Shahabiyah) yang secara kritis...
Di tengah budaya Jahiliyah yang sangat merendahkan martabat perempuan—bahkan hingga praktik penguburan bayi perempuan hidup-hidup—muncul sosok-sosok sahabat perempuan (Shahabiyah) yang secara kritis memperjuangkan kesetaraan dan hak-hak mereka di hadapan Rasulullah SAW.
Daftar Isi
Dua tokoh utama yang sering disebut sebagai pejuang “kesetaraan” dalam konteks wahyu dan perwakilan perempuan adalah:
Ummu Salamah (Hindun binti Abi Umayyah)
Beliau dikenal sebagai intelektual di kalangan istri Nabi yang sangat kritis dalam menuntut pengakuan peran perempuan dalam Al-Qur’an.
- Protes kepada Nabi: Suatu hari ia bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa laki-laki sering disebut dalam Al-Qur’an terkait hijrah dan jihad, sementara kami (perempuan) tidak?”.
- Dampaknya: Pertanyaan kritis ini dijawab langsung oleh Allah melalui wahyu Surat Al-Ahzab ayat 35, yang menegaskan kedudukan yang setara antara laki-laki dan perempuan dalam hal pahala dan ampunan bagi mereka yang beriman, taat, dan bersedekah.
Asma binti Yazid (Sang Juru Bicara Perempuan)
Asma dijuluki sebagai Khatibatun Nisa atau Juru Bicara Kaum Perempuan karena keberaniannya menyampaikan aspirasi kaumnya kepada Rasulullah.
- Menuntut Hak Ibadah: Beliau mendatangi Rasulullah dan menyatakan bahwa kaum laki-laki memiliki banyak keutamaan seperti shalat Jumat, mengantar jenazah, dan jihad. Ia bertanya apakah perempuan, yang bertugas menjaga rumah dan mendidik anak, bisa mendapatkan pahala yang sama.
- Respons Rasulullah: Nabi sangat kagum dengan pertanyaan cerdasnya dan menegaskan bahwa pelayanan istri kepada suami dan rumah tangganya setara dengan seluruh pahala amal laki-laki tersebut jika dilakukan dengan ikhlas.
Tokoh Tangguh Lainnya
- Nusaibah binti Ka’ab: Memperjuangkan hak perempuan untuk terjun langsung di medan perang (sebagai prajurit, bukan sekadar logistik) dan menjadi tameng pelindung Rasulullah saat Perang Uhud.
- Rufaidah Al-Aslamiyah: Memelopori peran perempuan di bidang medis profesional sebagai perawat dan dokter lapangan pertama dalam Islam.
- Aisyah binti Abu Bakar: Menjadi rujukan utama ilmu pengetahuan dan hukum Islam, membuktikan bahwa kecerdasan intelektual perempuan tidak dibatasi oleh gender.
Islam hadir untuk menghapus tradisi Jahiliyah yang menganggap perempuan sebagai beban, dengan memberikan hak waris, hak pendidikan, dan hak untuk berpendapat.
Surat Al-Ahzab ayat 35 adalah ayat yang secara eksplisit menegaskan kesetaraan spiritual dan pahala antara laki-laki dan perempuan di hadapan Allah SWT. Ayat ini turun sebagai jawaban langsung atas kegelisahan Ummu Salamah yang merasa peran perempuan jarang disebut dalam wahyu.
Isi dan Terjemahan
Berikut adalah poin-poin utama dalam ayat tersebut yang menyebutkan 10 golongan laki-laki dan perempuan secara berpasangan:
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, serta laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35).
Makna Kesetaraan dalam Ayat Ini
- Status Sejajar: Ayat ini menggunakan struktur bahasa yang menyejajarkan penyebutan “laki-laki” dan “perempuan” pada setiap kriteria amal, menunjukkan bahwa tidak ada subordinasi dalam hal ibadah.
- Keadilan Pahala: Menegaskan bahwa balasan berupa ampunan dan surga diberikan berdasarkan kualitas iman dan taqwa, bukan jenis kelamin.
- Pengakuan Eksistensi: Ayat ini menjadi bukti sejarah bahwa Islam mengakui hak perempuan untuk didengar aspirasinya dan diabadikan dalam kitab suci.
Penyebutan sepuluh sifat di atas mencakup seluruh aspek kehidupan seorang Muslim, mulai dari keyakinan hati hingga tindakan sosial dan pengendalian diri.
Kesimpulan
perjuangan kesetaraan gender oleh para sahabat perempuan di zaman Nabi adalah gerakan menuntut pengakuan eksistensi dan hak spiritual di tengah budaya Jahiliyah yang menindas.
Berikut poin-poin utamanya:
- Kritis dan Berani: Tokoh seperti Ummu Salamah dan Asma binti Yazid berani bertanya langsung kepada Rasulullah untuk memastikan bahwa perempuan memiliki derajat yang sama dalam pandangan Tuhan.
- Jawaban Wahyu: Aspirasi mereka dijawab langsung oleh Allah melalui Surat Al-Ahzab ayat 35, yang secara eksplisit menyejajarkan 10 sifat laki-laki dan perempuan dalam hal pahala dan ampunan.
- Penghapusan Stigma: Islam datang untuk mengubah status perempuan dari “beban” atau “properti” menjadi subjek hukum yang memiliki hak waris, hak pendidikan, dan hak untuk berjihad (seperti Nusaibah binti Ka’ab).
- Keadilan Spiritual: Kemuliaan seseorang dalam Islam tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh kualitas iman dan ketakwaannya.
Sumber
https://nu.or.id/nasional/kisah-sahabat-perempuan-rasulullah-yang-perjuangkan-kesetaraan-gender-pada-zaman-jahiliyah-MtJL0



No Comment! Be the first one.