Apa Itu Hilal? Ini Pengertian dan Fungsinya Menentukan Awal Ramadhan
Penentuan awal Ramadhan di Indonesia seringkali berbeda karena metode hisab dan rukyat yang digunakan. Salah satu faktor kunci dalam penentuan ini adalah hilal, atau bulan sabit muda pertama yang...
Penentuan awal Ramadhan di Indonesia seringkali berbeda karena metode hisab dan rukyat yang digunakan. Salah satu faktor kunci dalam penentuan ini adalah hilal, atau bulan sabit muda pertama yang terlihat setelah konjungsi. Artikel yang dikutip dari Kompas.com ini akan membahas apa itu hilal, fungsinya dalam kalender Islam, serta dua metode penentuan awal Ramadhan yang digunakan di Indonesia.
Daftar Isi
Menjelang Ramadhan, istilah hilal sering muncul di berbagai pemberitaan. Namun, masih banyak yang bertanya-tanya: apa sebenarnya hilal itu? Mengapa posisinya menjadi penentu kapan umat Islam mulai berpuasa?
Memahami hilal penting agar kamu tidak bingung dengan perbedaan penetapan awal Ramadhan yang sering terjadi di Indonesia. Artikel ini akan menjelaskan secara lengkap tentang hilal, cara pengamatannya, dan dua metode penentuan awal Ramadhan yang diakui dalam Islam.
Apa Itu Hilal?
Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika dari Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa hilal adalah bulan sabit muda pertama yang terlihat setelah terjadinya konjungsi (ijtimak, atau bulan baru) di arah dekat Matahari terbenam.
Hilal menjadi acuan utama dalam penentuan permulaan bulan dalam kalender Islam. Karena posisinya yang sangat muda, hilal sulit terlihat dengan mata telanjang. Pengamatannya biasanya dibantu dengan teleskop atau kamera khusus.
“Hilal adalah bulan sabit pertama yang bisa dilihat. Secara hisab (perhitungan astronomi), ketampakan hilal ditentukan dengan kriteria tertentu, misalnya tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat,” ujar Thomas kepada Kompas.com.
“Hilal dijadikan acuan pergantian bulan Hijriah sesuai contoh Rasul, karena hilal adalah bukti fisik yang tampak bahwa bulan telah menyelesaikan siklus orbitnya,” tambahnya.
Dua Metode Penentuan Awal Ramadhan
Penentuan awal Ramadhan ditentukan melalui dua metode yang diakui dalam Islam, yaitu metode rukyatul hilal dan hisab hakiki wujudul hilal. Pemerintah Indonesia biasanya menggunakan kombinasi dari kedua metode tersebut, dan hasilnya disahkan melalui Sidang Isbat.
1. Metode Rukyatul Hilal
Kata rukyat berarti “melihat dengan mata”, sedangkan hilal berarti bulan sabit. Dengan metode rukyatul hilal, penentuan awal Ramadhan didasarkan pada penglihatan langsung bulan yang masih berbentuk sabit tipis, belum terlihat bulat dari bumi.
Pengamatan hilal dapat dilakukan dengan tiga cara:
- Mata telanjang – Mengandalkan penglihatan langsung
- Alat optik – Menggunakan teleskop atau binokular
- Alat optik dengan sensor/kamera – Untuk mendapatkan citra yang lebih jelas
Dari ketiga cara ini, keterlihatan hilal terbagi menjadi tiga kategori:
- Kasatmata telanjang (bil fili) – Terlihat langsung dengan mata
- Kasatmata teleskop – Terlihat dengan bantuan teleskop
- Kasat-citra – Terlihat melalui citra kamera
Meskipun menggunakan metode rukyatul hilal, Nahdlatul Ulama (NU) tidak meninggalkan hisab atau ilmu falak. Metode hisab digunakan sebagai alat bantu dalam pelaksanaan rukyatul hilal, karena pengamatan hilal tidak dapat dilakukan secara akurat tanpa perhitungan hisab.
2. Metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal
Metode hisab hakiki wujudul hilal merupakan cara penentuan awal Ramadhan melalui perhitungan astronomis. Metode ini meyakini keberadaan hilal meskipun tidak terlihat dengan mata telanjang, asalkan memenuhi tiga kriteria:
- Telah terjadi ijtimak atau konjungsi bulan-bumi-matahari
- Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam
- Saat matahari terbenam, piringan atas bulan berada di atas ufuk, menandakan bulan baru telah wujud
Ketiga kriteria ini harus terpenuhi untuk menandai masuknya awal bulan Hijriyah.
Metode hisab hakiki wujudul hilal inilah yang digunakan oleh Muhammadiyah untuk menetapkan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Kriteria Visibilitas Hilal
Untuk dapat melihat hilal, ada kriteria tertentu yang harus dipenuhi. Pemerintah Indonesia bersama negara-negara MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura) menggunakan kriteria:
- Tinggi hilal minimal 3 derajat dari ufuk
- Sudut elongasi minimal 6,4 derajat (jarak sudut antara bulan dan matahari)
Untuk melihat hilal, posisi bulan biasanya harus berada dua derajat di atas Matahari, dengan jarak elongasi cukup dari matahari ke kanan atau kiri. Semakin lebar jaraknya, semakin mudah hilal terlihat.
Kesimpulan
Hilal adalah bulan sabit muda pertama yang menjadi acuan utama dalam penentuan awal bulan Hijriah, termasuk Ramadhan. Ada dua metode yang diakui dalam Islam:
- Rukyatul Hilal – Berdasarkan pengamatan langsung, digunakan oleh pemerintah dan NU dengan bantuan hisab
- Hisab Hakiki Wujudul Hilal – Berdasarkan perhitungan astronomis, digunakan oleh Muhammadiyah
Dengan memahami apa itu hilal dan kedua metode penentuannya, kamu bisa lebih bijak menyikapi perbedaan penetapan awal Ramadhan yang mungkin terjadi.
Referensi : https://www.kompas.com/tren/read/2026/02/17/170000065/apa-itu-hilal-mengapa-harus-terlihat-untuk-menentukan-awal-ramadhan-?page=all#page2



No Comment! Be the first one.