Banyak dari kita menganggap makruh sebagai hal yang sepele. Tidak berdosa jika dilakukan, sehingga sering diabaikan begitu saja. Padahal, justru dari perkara makruh inilah terlihat kualitas keimanan seseorang.
Daftar Isi
Semakin kita mampu meninggalkannya, semakin tinggi pula tingkat kehati-hatian kita dalam beribadah kepada Allah SWT.
Artikel ini akan membahas makruh secara lengkap, mulai dari pengertian, jenis, hingga contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Memahami Makruh dalam Islam
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melakukan sesuatu tanpa mengetahui hukumnya. Di sinilah pentingnya memahami makruh agar ibadah kita lebih terarah.
Secara bahasa, makruh berasal dari kata Arab makrūh yang berarti sesuatu yang dibenci. Dalam istilah fikih, makruh adalah perbuatan yang tidak disukai oleh Allah SWT, namun tidak sampai haram.
Menurut Ali Muakhir dalam bukunya Apa Itu Makruh, makruh adalah larangan yang tidak disertai ancaman hukuman tegas. Artinya, pelakunya tidak berdosa, tetapi meninggalkannya lebih utama.
Dengan memahami hal ini, kita menyadari bahwa makruh adalah bentuk bimbingan halus dalam Islam. Ia mengarahkan kita menuju amal yang lebih baik.
Mengapa Makruh Sering Diremehkan?
Banyak orang menganggap makruh tidak penting karena tidak berdosa. Padahal, sikap ini bisa membuat kita kehilangan kesempatan meraih pahala.
Islam tidak hanya mengatur hal yang wajib dan haram. Ada tingkatan hukum yang membentuk akhlak, termasuk makruh.
Ketika kita menjauhi makruh, kita sedang melatih diri untuk lebih taat. Ini menjadi tanda kesungguhan dalam mencari ridha Allah SWT.
Sebaliknya, jika kita terbiasa meremehkannya, kita bisa perlahan mendekati hal yang haram. Inilah yang perlu kita waspadai.
Jenis-Jenis Makruh dan Contohnya
Para ulama membagi makruh menjadi dua jenis utama. Pembagian ini membantu kita memahami tingkat larangan dalam setiap perbuatan.
Makruh tahrim adalah perbuatan yang sangat dilarang, namun tidak ada dalil tegas yang mengharamkan. Ulama mazhab Hanafi menilai hukum ini mendekati haram.
Contohnya adalah laki-laki memakai emas atau sutra. Termasuk juga melakukan shalat sunnah setelah Subuh dan Ashar tanpa alasan syar’i.
Sementara itu, makruh tanzih adalah perbuatan yang sebaiknya ditinggalkan karena kurang baik. Hukumnya lebih ringan dibanding makruh tahrim.
Contohnya, meniup makanan yang masih panas dan minum sambil berdiri tanpa sebab. Termasuk juga berwudhu dengan air yang meragukan kebersihannya.
Dengan memahami dua jenis ini, kita bisa lebih bijak dalam menentukan sikap. Tidak semua makruh memiliki tingkat yang sama.
Posisi Makruh dalam Hukum Islam
Dalam Islam, setiap perbuatan memiliki hukum yang jelas. Makruh adalah salah satu dari lima kategori hukum syariat.
Kelima hukum tersebut adalah wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah. Setiap kategori memiliki konsekuensi berbeda.
Makruh berada di antara haram dan mubah. Perbuatan ini tidak berdosa jika dilakukan, tetapi berpahala jika ditinggalkan.
Dengan memahami posisi ini, kita tidak hanya fokus pada halal dan haram. Kita juga memperhatikan kualitas amal dalam kehidupan sehari-hari.
Doa agar Dijauhkan dari Hal yang Tidak Baik
Setelah memahami makruh, kita dianjurkan memohon kepada Allah agar dijauhkan dari hal yang kurang baik.
اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الأَعْمَالِ وَالأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, tunjukkan aku kepada amalan dan akhlak terbaik. Tidak ada yang bisa menunjukkannya kecuali Engkau. Jauhkan aku dari keburukannya.”
Doa ini mengajarkan kita untuk selalu memilih yang terbaik, termasuk menjauhi hal-hal makruh.
Penutup
Makruh mengajarkan kita bahwa Islam bukan hanya tentang kewajiban dan larangan keras. Ada proses pembinaan menuju ketakwaan yang lebih tinggi.
Semoga kita menjadi hamba yang tidak hanya meninggalkan yang haram, tetapi juga menjauhi yang makruh. Dengan begitu, kualitas ibadah kita semakin baik dan diterima oleh Allah SWT.
Sumber: https://pojoksuramadu.com/hukum-makruh-dalam-islam/



No Comment! Be the first one.